MEMAHAMI DEFINISI BARANG DITINJAU DARI SUMBER DAN KARAKTERISTIK PRODUKSINYA

  • 2018-05-19 22:42:22
  • Posted by Admin

Setidaknya ada 2 (dua) hal yang mengispirasi tulisan ini sehubungan dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (selanjutnya ditulis Perpres 16/2018), yaitu : (1) tidak adanya Lampiran sebagai penjelasan Perpres 16/2018; dan (2) Perubahan definisi Jasa Konstruksi mengacu pada Undang-undang Nomor 2 Tahun 2017. Dengan tidak adanya Lampiran pada Perpres 16/2018, tentu penjelasan resmi mengenai definisi akan termuat dalam salah satu Peraturan Kepala LKPP yang menjadi amanat dari pasal 91 Perpres 16/2018. Tulisan ini dibuat sebelum Peraturan Kepala LKPP dimaksud terbit, sehingga tentunya penjelasan yang mengikat secara hukum adalah penjelasan yang termuat dalam Peraturan Kepala LKPP. Perubahan definisi Jasa Konstruksi berdasarkan UU 2/2017 yang telah diadopsi oleh Perpres 16/2018, khususnya dihilangkannya frasa "wujud fisik lain", mengakibatkan yang semua dimaknai sebagai "pekerjaan konstruksi" akan masuk dalam  pengertian "barang".

Berdasarkan pasal 1 angka 29 Perpres 16/2018, barang adalah setiap benda baik berwujud maupun tidak berwujud, bergerak maupun tidak bergerak, yang dapat diperdagangkan, dipakai, dipergunakan atau dimanfaatkan oleh Pengguna Barang. Definisi singkat tersebut memiliki makna yang sangat luas, untuk memudahkan pemahamannya, saya menggunakan 2 pendekatan, yaitu: (1) pendekatan sumber produksi; dan (2) pendekatan karakteristik produksi.

Dalam pendekatan sumber produksi, rujukan yang dipakai adalah Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia berdasarkan Peraturan Kepala BPS nomor 95 Tahun 21015. Mengacu pada KBLI 2015, barang bersumber dari: (1) Pertanian, Kehutanan dan Perikanan; (2) Pertambangan dan Penggalian; (3) Industri Pengolahan; (4) Pengadaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas dan Udara Pengin; (5) Pengelolaan Air, Pengelolaan Air Limbah, Pengelolaan dan Daur Ulang Sampah dan Aktivitas Remediasi; dan (6) Real Estat. 

Industri Pengolahan sebagaimana tercantum dalam angka (3) paragraf sebelumnya meliputi kegiatan ekonomi/lapangan usaha di bidang perubahan secara kimia atau fisik dari bahan, unsur atau komponen menjadi produk baru. Bahan baku industri pengolahan berasal dari produk pertanian, kehutanan, perikanan, pertambangan atau penggalian seperti produk dari kegiatan industri pengolahan lainnya. Perubahan, pembaharuan atau rekonstruksi yang pokok dari barang secara umum diperlakukan sebagaiindustri pengolahan. Unit industri pengolahan digambarkan sebagai pabrik, mesin atau peralatan yang khusus digerakkan dengan mesin dan tangan. Termasuk kategori industri pengolahan di sini adalah unit yang mengubah bahan menjadi produk baru dengan menggunakan tangan, kegiatan maklon atau kegiatan penjualan produk yang dibuat di tempat yang sama di mana produk tersebut dijual dan unit yang melakukan pengolahan bahan-bahan dari pihak lain atas dasar kontrak. Industri pengolahan yang menghasilkan barang terdiri dari :  (a) Industri Makanan; (b) Industri Minuman; ('c) Industri Pengolahan Tembakau; (d) Industri Tekstil; (e) Industri Pakaian Jadi; (f) Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki; (g) Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus (Tidak Termasuk Furnitur) dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya; (h) Industri Kertas dan Barang dari Kertas; (i) Industri Pencetakan dan Reproduksi Media Rekaman; (j) Industri Produk dari Batu Bara dan Pengilangan Minyak Bumi; (k) Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia; (l) Industri Farmasi, Produk Obat Kimia dan Obat Tradisional; (m) Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik; (n) Industri Barang Galian Bukan Logam; (o) Industri Logam Dasar; ('p) Industri Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya; (q) Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik; ('r) Industri Peralatan Listrik; (s) Industri Mesin dan Perlengkapan ytdl; (t) Industri Kendaraan Bermotor, Trailer dan Semi Trailer; (u) Industri Alat Angkutan Lainnya; (v) Industri Furnitur; dan (v) Industri Pengolahan Lainnya.

Dalam pendekatan karakteristik produksi, rujukan yang dipakai adalah posting Deni Danasenjaya dalam sebuah forum diskusi online. Barang, terbagi menjadi 3 (tiga) karakteristik, yaitu (1) barang  yang diproduksi massal dan sudah ada di pasaran (made to stock); (2) barang yang diproduksi berdasarkan pesanan (made to order); dan (3) barang yang didesign dan dirancang secara khusus (engineer to order).

Dengan mengkombinasikan pendekatan tersebut di atas, maka dapat diberikan contoh-contoh yang bisa menjadi bahan diskusi sebagai berikut:

  • kapal, pesawat dan kendaraan tempur adalah produksi Industri Alat Angkutan Lainnya yang diproduksi berdasarkan pesanan atau bahkan harus didesign secara khusus;
  • mesin instalasi prosuksi, yang tidak menyatu dengan bangunan adalah barang hasil Industri Mesin dan Perlengkapan ytdl yang perlu didesign dan dirancang secara khusus;
  • furniture adalah barang hasil Industri Furniture yang diproduksi massal atau berdasarkan pesanan. Dalam hal melekat pada bangunan, maka Furniture bisa dimasukkan sebagai komponen dari Pekerjaan Konstruksi;
  • percetakan dan penjilidan adalah barang hasil Industri Pencetakan, yang produksinya secara massal atau pesanan;
  • penjahitan/konveksi barang hasil Industri Pakaian Jadi yang produksinya secara massal atau pesanan.

 

Setelah memahami sumber dan karakteristik produksi barang, pembahasan berikutnya adalah dimanakah atau kepada siapakah barang harus dibeli? pembahasan ini menjadi menarik karena akan menentukan persyaratan kualifikasi, perhitungan HPS dan kepatuhan terhadap ketentuan umum distribusi barang yang berlaku.